Langsung ke konten utama

Postingan

Karakter Burukmu Inspirasiku

Kau tahu rasanya ingin seperti mereka yang memiliki bakat, talenta, dan skill luar biasa? Kau tahu rasanya ingin mendapatkan hasil dari semua usaha yang sudah kau kejar dengan susah payah? Kau tahu rasanya mengagumi seseorang dan berusaha meniru? Tapi tak pernah membencinya, tak pernah ingin menyainginya, tak pernah ingin menjatuhkan, dan tak pernah mempunyai rasa iri padanya. Kesempatan menemukan seseorang itu, justru dapat menjadi semangat agar bisa menjadi sepertinya. Melibatkannya dalam kehidupanmu dan berdiskusi bersama untuk bisa belajar darinya. Itupun jika kau mempunyai karakter yang baik. Apakah kau tahu rasanya bisa meringankan beban orangtua? Apakah kau tahu rasanya ingin meringankan cemoohan orang tentang ketidakberhasilan mereka? Apakah kau tahu rasanya bisa membuat mereka lupa tentang penipuan yang pernah kau lakukan 5 tahun lalu? Apakah kau tahu rasanya bisa membuat mereka kagum terhadap keberhasilanmu. Bukan sekadar materi, bukan sekadar karya, tetapi kemampuan...

Akan Menjadi Apa dan Siapa

“Bahasa ialah ibu ilmu dari segala ilmu.” Itulah ungkapan pertama yang dilontarkan oleh dosen Bahasa Indonesia, Teguh Dewabrata, Drs., saat di kelas Penerbitan 4A. Tanpa adanya bahasa, ilmu memang tidak dapat disampaikan kepada orang lain. Maka dari itu, susunan bahasa yang baik dapat memberikan informasi yang menarik bagi pembaca atau penikmatnya. Ketika melakukan penyuntingan terhadap suatu tulisan, sangat membutuhkan teknik bahasa yang baik dan mendetail. Teknik bahasa yang perlu dikuasai ialah Bahasa Indonesia. Ketelitian dan pemilihan kata bukan hanya membuat sebuah tulisan menjadi informatif, tetapi juga menciptakan nilai estetika bahasa. Dosen Bahasa Indonesia ini pernah mengatakan, bahwa Beliau sangat menyenangi kedetailan, sehingga mempelajari ilmu bahasa tidak salah baginya. Ilmu bahasa yang didapatkan kini ditransferkannya kepada mahasiswa Penerbitan di PoliMedia. Bahasa Indonesia merupakan tulang punggung program studi Penerbitan, karena Penerbitan lebih fokus ...

Perjalanan dalam Misi Mencicipi Kuliner Lokal dan Bagaimana Kuliner Mendominasi Kehidupan

Aruna & Lidahnya Laksmi Pamuntjak Gramedia November 2014 (Cetakan Pertama) 432 Halaman 978-602-03-0852-4 Rp 78.000,- Sebuah novel tentang makanan, perjalanan, dan konspirasi. Laksmi Pamuntjak mampu menyuguhkan karya fiksi yang mengaitkan kuliner dengan konsep kehidupan. Dalam kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota di Indonesia, Aruna yang bekerja sebagai konsultan epidemiologi atau disebut “Ahli Wabah” ditugaskan melakukan penelitian. Dalam kesempatan penelitian itu Aruna bersama dua karibnya, Bono dan Nadezhda yang terobsesi terhadap makanan memanfaatkan perjalanannya untuk menikmati kuliner lokal. Dalam misi pencicipan cita rasa makanan bukan hanya mengetahui makanan secara umum, tetapi bagaimana makanan telah mendominasi kehidupan. Konsep kehidupan seperti realita sosial, politik, agama, dan sejarah yang tak hanya berkaitan dengan kolusi, korupsi, konspirasi, dan misinformasi, tetapi juga menyatukan cinta dan pertemanan. Cara...

Waktu Tak Berpihak

Sebuah perjalanan membutuhkan saatnya berhenti untuk berpikir sejenak dan memilih keputusan yang tepat.  Ribuan karbon monoksida tak terhitung menerpa wajahku. Entah akan sepekat apa ketika tissue membersihkan wajah ini. Kaki tidak tahu sudah berjalan sejauh mana hanya untuk memikirkan keputusan yang harus kuambil. Semoga tak ada seseorang menyapa dan tak ada seseorang yang mengenalku. Kali ini aku masih tidak berselera diganggu oleh siapa pun. Aku masih harus memikirkan hal masa depan. Seseorang menabrak pundakku ketika mobil angkutan sudah berhenti tepat di depanku. Halte ini tak pernah sepi, pemberhentian kendaraan umum sekarang sudah teratur, sehingga tidak ada lagi kemacetan. Karyawan kantor tidak lagi berdesak-desakan di jalan, tidak lagi harus merapikan diri kembali setelah turun dari kereta. Pemimpin perusahaan tidak lagi melihat keterlambatan karyawan karena alasan macet, menunggu kereta, dan hal-hal lain di jalan. Aku menyapu jalanan sekitar, para karyawan k...

Cerita Siang Bolong

www.kaskus.co.id Senja kali ini aku mampu merangkai beberapa kata untuk tulisan ini. Malam kerap kali tak bisa membawa tidurku pulas. Hari Minggu siang ini aku mampu lama menutup mata dan menempel bersama bantalku selama hampir lebih dari 3 jam. Aku bermimpi sangat jelas. Mulai dari kronologi, warna pakaian yang ia kenakan, siapa, dan di mana. Namun, satu wajah yang pertama kutemui itu, aku tidak tahu siapa. Aku bertemu di sebuah stasiun yang sepertinya dekat dengan Ancol. Entah apa nama stasiun itu. Kita sama-sama tidak tahu jalan pulang dan aku juga tak tahu dari mana. Sosok itu berbaju putih dengan memakai sepatu convers , mempunyai poni sedikit, sekitar 15 cm lebih tinggi dariku, berkulit sawo matang tetapi bersih, membawa tas berwarna hitam. Saling bertanya jurusan apa untuk bisa pulang. Ternyata kita satu arah dan dari situ mulai terdapat obrolan panjang dan semakin dekat. Kemudian aku bertemu dengan teman-temanku. Kita pulang ramai-ramai. Entah percakapan apa ya...

Seseorang itu.,

Tertunduk, memainkan sebuah kotak kecil yang berisi banyak informasi. Tentang orang lain, tentang berita, tentang apa saja kemudahan yang bisa ditemukan dalam satu kotak kecil itu, smartphone. Terduduk dan tertunduk begitu lama, di sebuah lobby gedung yang mempelajari industri kreatif dengan persaingan entreprenuer yang entah akan menjadi berhasil atau tidak. Namun, keunikan itu pasti akan membuahkan hasil, meskipun begitu lama. Hari suci. Jum’at, di mana para pria muslim melaksanakan kewajibannya. Mengenakan pakaian koko berwarna putih untuk melaksanakan kewajiban kepada Tuhan memang membuatnya tampak lebih. Menunggu seseorang yang bisa membawa melepas jaket almamater di kampus tercintanya mungkin yang sedang ia lakukan. Terselempang tas berwarna hitam berisi berkas-berkas penting yang entah apa isinya. Cukup lama hanyut dalam sentuhan ponsel membuatnya mungkin tak akan tahu kegiatan sekitar. Satu arah mampu melihatnya, meskipun tak begitu jelas. Memperhatikan berdasa...

Peringati Hari Film Nasional, Foto Dari 10 Still Fotografer Di Pamerkan

FILARTC 2015 ( Film and Art Celebration ) gagas pameran pada acara peringatan hari film nasional ke-65 yang dilaksanakan di TIM (Taman Ismail Marzuki). Acara berlangsung selama tiga hari, terhitung dari tanggal 27 – 29 Maret 2015 di Lobby Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki.  Filartc mempersembahkan pameran foto ‘di dalam set film’ dari 10 karya Still Fotografer ialah, Ace Mace, Eriekn Juragan Erik Wirasakti, Erland Herlambang, Juraj Sedlak, Pangeran Popoy, Rezha PN, Sony Seniawan, Timur Angin, dan Umar Setyadi. Pameran yang mengusung tema “Potret Sinema Indonesia” dapat memberikan gambaran bagaimana selama ini sinema Indonesia banyak sekali mengandung berbagai cerita atau potret sebuah kehidupan, entah kehidupan pada sisi politik, sosial, ekonomi, maupun agama. Di samping itu, pemilihan tema tersebut juga dapat memberikan penjelasan bagaimana indahnya film-film di Indonesia sekarang.  Seminar Still Photograpy “Momotret di dalam set film” dilaksanakan pada Min...