Langsung ke konten utama

Postingan

Gue Tuh Orangnya Enggak Enakan

SEPERTINYA seseorang yang mengatakan “Gue itu orangnya nggak enakan” sudah terlalu sering saya dengar. Coba perhatikan setiap orang yang masih menceritakan suatu hal dan berusaha membela dirinya. Begitulah kata-kata yang akan muncul. Meski demikian tetapi jangan dipersepsikan untuk hal negatif saja karena saya mengatakan seperti itu juga tidak sepenuhnya benar. Saya hanya ingin menyimpulkan. Apa yang orang bicarakan tanpa tindakan itu semata-mata hanya alasan semata. Tidak ada alasan apa pun untuk berbuat sesuatu kepada orang lain. Persetan apa dengan sebuah kata “gue itu orangnya nggak enakan” tanpa ada tindakan satu pun. Itu bisa dikatakan bahwa orang itu berusaha membela dirinya sendiri di depan orang yang ia ajak bicara. Saya tekankan sekali lagi bahwa satu kata itu bukan berati negatif. Akan menjadi negatif jika tak ada tindakan apa pun, tetapi tetap bisa positif apabila dilakukan tindakan, dan akan lebih baik lagi apabila tak mengatakan kata-kata itu tetapi langsung...

Tutup Matamu Dengan Selendang

Photo by, Prajna Farravita Taken di Hutan Mangrove Jakarta In Frame Tiara Puspita Tutup matamu dengan selendang jika kau tidak mau melihat kilatan pedang~ Kalimat itu sempat membawaku pada sebuah imajinasi kekejaman yang keluar dari mulut. Ya, mulut bisa bercakap lebih tajam dari pisau. Lebih menyengat dari terik surya. Lebih menakutkan dari kilatan pedang. Ada yang mengatakan bahwa pedang lebih tajam dari pisau. Ya, nyatanya dari kilatannya saja sudah menakutkan. Apa maksud semua itu? Begini, Seseorang mampu menyakiti orang lain sesakit-sakitnya hanya dengan satu kata yang muncul dari mulutnya. Ibaratkan sebuah kalimat lengkapnya itu ialah pedang, sedangkan beberapa kata singkat kata intinya ialah kilatan pedang. Menakutkan dan mematikan. Bahkan seperti belati yang mampu menusukkan hingga membocori ulu hati. Maka, tutuplah matamu dengan selendang jika kau takut dengan kilatannya. Kilatannya saja sudah mampu membawamu ikut menancapkan pedang itu ke orang ...

Kesalahpahaman dalam Kesia-siaan

Photo by, Prajna Farravita Located: Maribaya, Lembang, Bandung Kesia-siaan seperti apa jika pendidikan wanita hanya sampai di meja dapur? SAYA katakan bahwa saya sering terjebak dalam obrolan kesia-siaan tentang pendidikan tinggi seorang wanita tetapi berakhir di meja dapur. Saya akui bahwa saya (dulu) sempat ikut terjebak dalam pemikiran klise tersebut. Dan akhirnya, saya bangga bahwa saya sampai pada pemikiran yang berbanding terbalik dari orang kebanyakan. Obrolan itu sampai di meja dapur juga. Ketika gelar sarjana yang didapatkan oleh seorang wanita akan sia-sia jika ujungnya mengurus rumah tangga. Saya tahu bahwa saya sedikit naif, tetapi saya juga tahu bahwa apa yang saya pikirkan cukup benar. Begini, seseorang mengatakan bahwa gelar pendidikan tinggi untuk seorang wanita jika akhirnya tidak terpakai di dalam dunia kerja atau karier semua itu akan sia-sia. Saya tidak mengatakan bahwa pendapatnya salah. Saya juga tidak mengatakan setuju dengan argumen tersebut...

Hujan dan Lelaki

Photo by, Prajna Farravita Sekelebat sosoknya hadir tepat di depanku Menciptakan puisi pendek tetapi bukan untukku Berbicara mengenai hujan dan lelaki ketika deru hujan mulai keras Alunan katanya cepat tanpa sela napas Hujan itu inspirasinya untuk bersuara sastra Menyampaikan mantra mengikat yang dimiliki para pria Apakah sebetulnya hati juga berkata? Karena kudengar nadanya penuh sentuhan rasa Sedikit berlebih, tetapi aku yakin pasti akan jawab, ya Apakah hujan itu perlu memancingnya? Agar keluar kata-kata penuh daya cinta Agar dunianya tak kaku seperti mistar Lurus, tetapi sekali patah sulit digunakan lagi Lelaki dan hujan… Hujan itu meluluhkan hati sang penyair Agar banyak berkata indah penuh makna Melambungkan hati wanita dengan sentuhan kata Apakah dia pernah melakukannya? Beruntunglah kau yang menjadi sasaran Terngiang suaranya ketika berpuisi cinta Prajna Vita Jakarta, 1 Februari 2017

Monolog: Sebuah Dunia Sendiri

Photo by, Prajna Farravita Terkadang aku kesulitan memahami diriku sendiri. Terkadang aku juga terjebak di dalam duniaku sendiri. Dunia yang kubangun sendiri lalu kuhancurkan sendiri. Terkadang aku ingin menghakami waktu tetapi aku tidak tahu kata yang tepat. Terkadang aku juga ingin mengacak-acak jaring di atas jaringku tetapi aku takut tidak tahu akan mulai lagi darimana. Katanya, aku memerlukan penyeimbang. Aku pernah menemukannya tetapi aku meninggalkannya. Ya, karena ia tidak pernah mengakui ke-ada-anku. Aku seperti bayang-bayang yang numpang lewat di tengah malam. Aku hanya memiliki diriku yang mampu berdiri sendiri di tengah malam dengan ditemani lampu neon. Aku hanya memiliki pemikiranku yang belum menemukan tong sampah untuk aku membuangnya satu persatu. Aku hanya memiliki rumus rubik yang kuterapkan sendiri lalu ku acak-acak sendiri. Aku bukan seperti ampas kopi yang mampu meninggalkan rindu. Aku tidak pandai mengatakan apa yang ingin aku katakan. Biarlah aku d...

Perihal (Sayang) Sepihak

Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan Kau buat remuk sluruh hatiku Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kau pun tahu Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu Meski kau tak kan pernah tahu ~ Dewa 19 – Pupus ~ Mungkin lagu itu akan terus mengiriku, terus mengiringi, dan akan terus mengiringi hari-hariku. Tak pernah berubah, tak pernah berganti, tak pernah berbeda. Untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa kali aku merasakannya, tetapi ini lebih-lebih menyakitkan.            Kau tahu perihal ‘Sayang’,  hah ! Kau tahu itu, dan kau mengetahui itu! Tapi lagakmu seakan tak mau tahu dan tak mau peduli atau pura-pura tidak tahu?!            Kau tahu perihal ‘Sepihak’,  hah ! Mungkin kau tahu dan sikapmu seakan membalas padahal tidak sama sekali, tidak sedikitpun. Dan, sekarang aku menyadari bahwa itu semu. Bahwa itu hanya untuk menenangkan hatimu yang tak kuat merasa hampa, tak kuat mera...

Aku Ingin Berbaring Menatap Langit

Aku tidak mempunyai rasa untuk menulis. Otakku seakan beku oleh kata-kata. Aku tak tahu apa yang ingin aku tulis. Menjadi sebuah tulisan absurd tanpa susunan kata yang jelas mungkin akan tercipta dengan sendirinya. Akan menulis tentang semesta.., atau…, dia? Entahlah, Mungkin, keduanya saling bersangkutan. Pada semesta yang kala itu hujan ringan. Aroma tanah kering sudah tak tercium lagi, yang ada bau tanah basah. Titik-titik air telah menempel pada kaca jendela, dan, indahnya sungguh sederhana. Imajinasi meliar tetapi tak tahu satu titik mana yang akan dirangkaikan dari kata menjadi kalimat, lalu tersusun paragraf, kemudian lengkap menjadi satu tulisan utuh yang meninggalkan makna. Aku mengingatmu ketika aku melihat semesta, lalu aku mengagungkan-Nya. Gerimis itu menyapa, aku tahu, itu dari-Nya. Hujan itu pertanda, bahwa air yang jatuh akan kembali lagi pada-Nya, begitu seterusnya. Hujan kala itu, yang aku minta jangan biarkan badai datang menjatuhi tanah. Aku ingin berbari...