Langsung ke konten utama

Postingan

Parade Para Monster: Berbeda Bukan Berarti Menakutkan

Judul Buku: Parade Para Monster Penulis: Eva Sri Rahayu Penerbit: Clover Tebal: 312 hal Menjadi berbeda terkadang bisa membahayakan diri sendiri. Seperti yang dialami oleh Wenna, di mana ia merahasiakan tentang perbedaannya kepada teman-temannya. Bagaimana tidak, hal-hal aneh yang ada di tubuh Wenna, bisa membuat teman-temannya tidak mau lagi dekat dengannya. Menghindari hal itu Wenna lebih memilih untuk menjaga jarak dari mereka. Kemampuannya yang bisa disebut sebagai monster ternyata membawanya pada dunianya. Hari Helloween menjadi hari di mana Wenna bisa mengekspresikan dirinya sebagai monster. Pada saat itu Wenna mendapatkan undangan ke Far-Far Away (sebuah tempat para monster berkumpul), Wenna akhirnya berangkat dengan Jack (sahabatnya yang juga memiliki kemampuan sema dengan Wenna). Dalam masa karantina menunggu datangnya festival Helloween. Banyak terjadi kecurigaan-kecurigaan yang dirasakan oleh Jack. Piter yang mendekati Wenna dan membuat Wenna jatuh hat...

Ketika Kopi Menuntun Perbincangan Mengenai Kemunafikan

Photo by, Muhammad N.G Filosofi Kopi Espresso, Caffe latte, Lestari Aeropress Apa filosofi yang tepat ketika kopi ikut menuntun berbicara mengenai kemunafikan? Tak perlu dogma panjang untuk menjelaskan perihal kemunafikan. Mengapa begitu? Karena untuk munafik tak perlu memelajarinya. Judge saja orang lain munafik, lalu pikirkan siapa yang mencuap-cuapkan kemunafikan tetapi tidak tahu perihal ilmu dan agama dibandingkan dengan siapa yang memilih diam tetapi sebetulnya mencoba menelaah mengenai semesta. Sederhananya, semua itu mampu diterjemahkan lewat bagaimana dunia ini. Namun, memang membutuhkan kepekaan yang kuat agar mampu paham semua itu. Tak ada salahnya mencoba menengahi kasus yang muncul akhir-akhir ini mengenai penistaan agama. Lantas, jangan lalu menjadi alibi ketika sudah menemukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tak perlu berbicara panjang, juga tak perlu berkoar-koar di dalam cyber —Toh bintang jatuh juga tahu siapa ksatrianya. Duduk saja diam. Pikirkan. ...

Coffee Time: Sebuah Rasa

Photo by, Prajna Farravita Kata apa yang tepat untuk menerjemahkan kompleksitas rasa? Bukan perasaan, tetapi rasa kopi. Bukankah keduanya juga berhubungan? Oh iya, memang keduanya berhubungan sangat erat. Pernah disinggung bahwa kopi perihal candu yang bikin rindu. Ya, rasa kopi memang mencandu dan merindukan. Merindukan pada momen tentunya. Rasa pada sebuah kopi tidak bisa terdeteksi tanpa ada perasaan. Perasaanlah yang mampu menerjemahkan rasa kopi. Terkadang perasaan juga mampu menerjemahkan rasa selain kopi. Rasa rindu. Bisa jadi rindu terhadap kenangan. Saat ini, yang kutahu hidupku berubah. Sebuah rasa yang dulu memang sudah berlalu, tetapi belum sepenuhnya hilang. Pada sebuah labirin itu aku berkutik mencari celah untuk keluar. Ya, aku memang bisa. Lalu, labirin itu kutinggalkan karena aku tidak mau menjadi konflik pada kebahagiaan orang yang pernah kusayangi. Sebuah rasa itu pertama kali kupunyai dan pertama kali pula membuatku kecewa. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya tanp...

Coffee Time: Sebuah Masa

Photo by, Prajna Farravita Membicarakan masa lalu? Tidak. Tidak begitu lalu. Mungkin. Masa lampau. Sebuah Kenangan? Cocok disuguhkan bersama secangkir kopi. Pahit. Tidak juga karena Penyeduh kopi dapat menyeduhkan kopi tanpa rasa pahit. Sebuah cerita masa lampau sering menjadi kenangan. Dan, kopi berperan menjadi ekskavasi yang akan tetap terasa baru. Perihal rindu? Tentu saja “Kopi ialah candu yang bikin rindu”. Aku peringatkan, hati-hati merindu. Kalau-kalau orang yang kau rindu tidak merindukanmu kau harus siap bertepuk tangan sendiri. Jangan buat hidupmu seperti drama karena kopi pun sangat realitas. Membicarakan kenangan. Tak ada salahnya pula menyimpan setiap momen pada sebuah jepretan foto. Jangan kaget dengan seluk beluk pandangan seorang fotografer. Setiap sisi pun bisa dibidik menjadi jepretan yang sederhana tetapi bercerita. Jangan hakimi pula ketika pecinta foto duduk diam memerhatikan setiap sisi objek karena objek itu menjadi menakjubkan. Bisa saja sikapnya dingi...

(Tak Lagi) Terlalu Manis

Photo by, Muhammad N.G Bagaimana mungkin bisa terlelap, jika kenangan itu tiba tiba saja hadir .~ Berbicara mengenai kenangan. Ah , aku rindu kopi dan musik. Masa lalu. Satu percikan cerita meminta untuk dirangkaikan. Membuat masa-masa itu teringat. Biarlah, karena aku memang tak ingin melupakannya. Larut malam tapi sudah pagi, sudah pagi tapi masih terlalu malam. Entahlah, aku tetap ingin menuliskan apa yang aku ingat, karena itu 'Terlalu Manis.' Ini kali pertama aku menuliskan tentang ‘T erlalu M anis. ’ Siapa dia? Yang selalu melantunkan alunan gitar, petikan melodi tepatnya. Bercerita mengenai dirinya yang ditemani kopi. Lihai mengalunkan jarinya pada lembaran dan membentuk tipografi unik nun garang. Dan juga, pandai berprosa. Ah , bagaimana aku tak sempat jatuh hati waktu itu. Sayang, masa bodohnya selalu menutupi sikapnya yang sebenarnya seorang pengamat dan penghargai perasaan. Aku tahu, saat ini, pada malam seperti ini mungkin kau juga masih terjaga...

Hitam Pekat

Hitam bukan berarti gelap Pahit bukan berarti suram Semuanya ada dalam hidup Memberi cerita dari setiap teguk Bukan hal klise untuk pencari keistimewaan Mencari makna di setiap sudut teguk cangkir Membuka kebahagiaan, menemukan sebuah jalan Bukan untuk menyusuri seperti air mengalir Bentuknya sederhana, tetapi mampu klasik Identik dengan masyarakat urban Manusia-manusia yang tak memahami menggunakannya sebagai gaya Menjadikan citra sosial menjadi meninggi Aku mencintainya, Melalui aroma pada awalnya Warna, rasa, hingga berjalan pada lidah Bertemu seni dan tibalah pada makna kehidupan Prajna Vita_ Jakarta, 13 Oktober 2015

Kopi! Kehidupan?

Photo by, Prajna Farravita "Kopi berasal dari buah bukan dari biji dan mengapa rasa pahit di dalamnya yang selalu menjadi perkara? Padahal, kopi akan meninggalkan rasa manis setelahnya. Melihat hal demikian, disadari atau tidak, bahwa kopi mengambil peran di dalam kehidupan." KEHIDUPAN di dunia ini tidak sepenuhnya selalu mulus. Banyak rasa pahit yang menjadi awal untuk mendapatkan kemanisannya. Sama seperti kopi, rasa pahit yang akan pertama kali menyentuh indra pencecap, tetapi rasakan setelahnya, rasa manis itu akan hadir. Jika kau tidak bisa menerima rasa pahit di dalam kopi, bagaimana bisa kau menerima pahitnya hidup. Para peminum kopi menyukai minuman hitam pekat itu karena rasa pahitnya. Mungkin bagi orang yang belum menemukan karakteristik rasa di dalam kopi hanya akan menemukan rasa pahit saja. Namun, berbeda dengan mereka yang sudah berkecimpung di dunia kopi. Banyak rasa yang mereka cari untuk menemukan karakteristiknya. Mereka menikmatinya, karena mere...