Langsung ke konten utama

Postingan

Resensi: Catatan Juang, Membuat Seseorang Berani Bertindak

Photo by Prajna Vita Judul: Catatan Juang Penulis: Fiersa Besari Penerbit: Media Kita Cetakan: Pertama, 2017 Tebal: vi + 306 hal ISBN: 978-797-794-549-7 “Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya”, tertanda Juang. PERNAH terinspirasi dari seseorang? Inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari orang, film, karya seni, hal-hal sekitar, lagu, musik, atau bahkan tulisan. Namun, bagaimana jika terinspirasi dari sebuah barang kepunyaan seseorang yang belum dikenal dan mampu mengubah dunia? Apakah itu sebuah Konspirasi Alam Semesta? Ya, karena semesta yang mendukung apa yang akan terjadi. Seperti halnya, semesta akan membawamu pada zona nyaman atau tidak, begitupun sebaliknya, akan membawamu keluar dari zona nyaman atau tidak. Kita juga tidak pernah salah keluar dari zona nyaman apabila semesta mendukung. Setiap konspirasi mungkin akan menyulitnya dan kau sendirilah yang akan tahu seberapa besar kau bisa menggapainya....

Dilan 1990: Gombalan Receh Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Perempuan yang awalnya ingin menjadi idaman Fahri, kini ingin menjadi pujaan Dilan. Tidak dipungkiri bahwa cara Dilan mengejar perempuan menjadi perbincangan di dunia pencinta film. Apalagi bagi yang sudah mengkhatamkan buku karangan Pidi Baiq ini. Dipastikan sudah hafal dialog-dialog Dilan yang kata anak zaman sekarang ialah gombalan receh. Film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan (sebagai Dilan) dan Vanesha Prescilla (sebagai Milea) ini mampu menjaring puluhan ribu penonton dalam sekejab. Meskipun awalnya netizen meragukan akting Iqbaal, tetapi ia sukses memerankan sosok Dilan. Karakter dan tingkah laku Dilan yang celengean , cuek, berandal, urakan, nakal, pembuat onar, ncleneh , dan pembuat ulah di sekolah mampu Iqbaal perankan dengan sempurna dan ini menjadi pembuktian profesionalismenya. Film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi ini berhasil menyulap Iqbaal menjadi sosok Dilan 1990. Hal ini juga berkat sang Ayah Pidi Baiq yang ikut menyutradarainya. Dan, membuat banyak perem...

Parade Para Monster: Berbeda Bukan Berarti Menakutkan

Judul Buku: Parade Para Monster Penulis: Eva Sri Rahayu Penerbit: Clover Tebal: 312 hal Menjadi berbeda terkadang bisa membahayakan diri sendiri. Seperti yang dialami oleh Wenna, di mana ia merahasiakan tentang perbedaannya kepada teman-temannya. Bagaimana tidak, hal-hal aneh yang ada di tubuh Wenna, bisa membuat teman-temannya tidak mau lagi dekat dengannya. Menghindari hal itu Wenna lebih memilih untuk menjaga jarak dari mereka. Kemampuannya yang bisa disebut sebagai monster ternyata membawanya pada dunianya. Hari Helloween menjadi hari di mana Wenna bisa mengekspresikan dirinya sebagai monster. Pada saat itu Wenna mendapatkan undangan ke Far-Far Away (sebuah tempat para monster berkumpul), Wenna akhirnya berangkat dengan Jack (sahabatnya yang juga memiliki kemampuan sema dengan Wenna). Dalam masa karantina menunggu datangnya festival Helloween. Banyak terjadi kecurigaan-kecurigaan yang dirasakan oleh Jack. Piter yang mendekati Wenna dan membuat Wenna jatuh hat...

Ketika Kopi Menuntun Perbincangan Mengenai Kemunafikan

Photo by, Muhammad N.G Filosofi Kopi Espresso, Caffe latte, Lestari Aeropress Apa filosofi yang tepat ketika kopi ikut menuntun berbicara mengenai kemunafikan? Tak perlu dogma panjang untuk menjelaskan perihal kemunafikan. Mengapa begitu? Karena untuk munafik tak perlu memelajarinya. Judge saja orang lain munafik, lalu pikirkan siapa yang mencuap-cuapkan kemunafikan tetapi tidak tahu perihal ilmu dan agama dibandingkan dengan siapa yang memilih diam tetapi sebetulnya mencoba menelaah mengenai semesta. Sederhananya, semua itu mampu diterjemahkan lewat bagaimana dunia ini. Namun, memang membutuhkan kepekaan yang kuat agar mampu paham semua itu. Tak ada salahnya mencoba menengahi kasus yang muncul akhir-akhir ini mengenai penistaan agama. Lantas, jangan lalu menjadi alibi ketika sudah menemukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tak perlu berbicara panjang, juga tak perlu berkoar-koar di dalam cyber —Toh bintang jatuh juga tahu siapa ksatrianya. Duduk saja diam. Pikirkan. ...

Coffee Time: Sebuah Rasa

Photo by, Prajna Farravita Kata apa yang tepat untuk menerjemahkan kompleksitas rasa? Bukan perasaan, tetapi rasa kopi. Bukankah keduanya juga berhubungan? Oh iya, memang keduanya berhubungan sangat erat. Pernah disinggung bahwa kopi perihal candu yang bikin rindu. Ya, rasa kopi memang mencandu dan merindukan. Merindukan pada momen tentunya. Rasa pada sebuah kopi tidak bisa terdeteksi tanpa ada perasaan. Perasaanlah yang mampu menerjemahkan rasa kopi. Terkadang perasaan juga mampu menerjemahkan rasa selain kopi. Rasa rindu. Bisa jadi rindu terhadap kenangan. Saat ini, yang kutahu hidupku berubah. Sebuah rasa yang dulu memang sudah berlalu, tetapi belum sepenuhnya hilang. Pada sebuah labirin itu aku berkutik mencari celah untuk keluar. Ya, aku memang bisa. Lalu, labirin itu kutinggalkan karena aku tidak mau menjadi konflik pada kebahagiaan orang yang pernah kusayangi. Sebuah rasa itu pertama kali kupunyai dan pertama kali pula membuatku kecewa. Aku jatuh sejatuh-jatuhnya tanp...

Coffee Time: Sebuah Masa

Photo by, Prajna Farravita Membicarakan masa lalu? Tidak. Tidak begitu lalu. Mungkin. Masa lampau. Sebuah Kenangan? Cocok disuguhkan bersama secangkir kopi. Pahit. Tidak juga karena Penyeduh kopi dapat menyeduhkan kopi tanpa rasa pahit. Sebuah cerita masa lampau sering menjadi kenangan. Dan, kopi berperan menjadi ekskavasi yang akan tetap terasa baru. Perihal rindu? Tentu saja “Kopi ialah candu yang bikin rindu”. Aku peringatkan, hati-hati merindu. Kalau-kalau orang yang kau rindu tidak merindukanmu kau harus siap bertepuk tangan sendiri. Jangan buat hidupmu seperti drama karena kopi pun sangat realitas. Membicarakan kenangan. Tak ada salahnya pula menyimpan setiap momen pada sebuah jepretan foto. Jangan kaget dengan seluk beluk pandangan seorang fotografer. Setiap sisi pun bisa dibidik menjadi jepretan yang sederhana tetapi bercerita. Jangan hakimi pula ketika pecinta foto duduk diam memerhatikan setiap sisi objek karena objek itu menjadi menakjubkan. Bisa saja sikapnya dingi...

(Tak Lagi) Terlalu Manis

Photo by, Muhammad N.G Bagaimana mungkin bisa terlelap, jika kenangan itu tiba tiba saja hadir .~ Berbicara mengenai kenangan. Ah , aku rindu kopi dan musik. Masa lalu. Satu percikan cerita meminta untuk dirangkaikan. Membuat masa-masa itu teringat. Biarlah, karena aku memang tak ingin melupakannya. Larut malam tapi sudah pagi, sudah pagi tapi masih terlalu malam. Entahlah, aku tetap ingin menuliskan apa yang aku ingat, karena itu 'Terlalu Manis.' Ini kali pertama aku menuliskan tentang ‘T erlalu M anis. ’ Siapa dia? Yang selalu melantunkan alunan gitar, petikan melodi tepatnya. Bercerita mengenai dirinya yang ditemani kopi. Lihai mengalunkan jarinya pada lembaran dan membentuk tipografi unik nun garang. Dan juga, pandai berprosa. Ah , bagaimana aku tak sempat jatuh hati waktu itu. Sayang, masa bodohnya selalu menutupi sikapnya yang sebenarnya seorang pengamat dan penghargai perasaan. Aku tahu, saat ini, pada malam seperti ini mungkin kau juga masih terjaga...