Langsung ke konten utama

Postingan

Kau, Sang Antonim dari Hitam

Photo, Prajna Farravita To, Kau, yang membawa doa suci, dipikul dari sebuah nama warna Siapa yang pertama kali mengenalkanku pada takdir yang melaju layaknya perahu kertas? Kau Siapa yang memasukkanku pada sebuah jaring laba-laba yang berada di atas jaring? Kau Siapa yang mengajakku melebur dalam kalimat ilmiah melalui rangkaian diksi indah nun rumit? Kau Siapa yang menggandengku menelusuri kesibukan kota yang tak bisa diajak bicara? Kau Siapa yang mendorongku untuk bertemu dengan banyak literatur dengan cara apapun agar penanya tergores dan abadi bersamaku? Kau Siapa yang menjadi pengamatanku untuk belajar bermain dalam duniaku sendiri dan mencari solusi ketika menghadapi berbagai hal, bermonolog dan berdialog dangan Dia Yang Maha Tahu? Aku katakan, lagi-lagi kau. Sebuah ledakan bintang yang menyisihkan satu dan keluar dari jalur, lalu Bintang Jatuh itu menemui Ksatria dan Putri. Supernova. Object kedua aku mengenali kompleksitas diksi dalam sebuah sainsfictio...

Karena-Mu

By, Prajna Farravita Aku tidak pernah membuka hati pada laki-laki yang ingin masuk ke kehidupanku. Banyak ketakutan dari sebuah hubungan yang berakhir rasa sakit. Dan tentunya aku tidak mau berada di tahap itu. BANYAK dari teman-temanku mempunyai jadwal keluar rumah rutin dengan orang istimewa setiap seminggu sekali. Mempunyai kebiasaan rutin untuk merayakan tanggal jadi mereka satu tahun sekali. Mempunyai hari-hari yang penuh perhatian dan ucapan selamat pagi lalu berakhir selamat tidur. Namun, terkadang cekcok kecil menghancurkan semua hubungan itu. Aku tidak pernah takut dikatakan hariku tidak berwarna atau aku tidak mempunyai kenangan di masa muda. Aku mempunyai cara sendiri untuk membuat hidupku lebih berwarna dan lebih berarti. Dengan caraku berjalan menyusuri setiap sudut kehidupan, aku seperti mampu menemukan beragam warna kehidupan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ketika aku menutup hatiku, aku seperti bisa membuat semua indraku peka dan aku ingin berteri...

Kisah Kematian dan Kabangkitan Sang Detektif Legendaris

doc. google Judul Buku: Sherlock Holmes The End Penulis: Benny Lo Penerbit: Visimedia  Tahun Terbit: September - 2012 Tebal: 160 Halaman No.ISBN: 9790651511 Harga: Rp 42.000,- KETIKA Sir Arthur Conan Doyle memutuskan untuk "mematikan" Sherlock Holmes, para penggemar fanatiknya bereaksi dengan keras. Majalah “The Strand” yang rutin memuat serial Sherlock Holmes kehilangan 20.000 pembaca setianya. Bahkan, banyak penggemar Sherlock Holmes "berdemonstrasi" di jalanan mengenakan pita hitam di lengan sebagai tanda berkabung! Setelah memutuskan mematikan Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle memilih menulis novel sejarah yang menjadi kesukaannya. Namun, ternyata novel sejarahnya ini tidak diterima oleh pasar. Pada tahun 1901, akhirnya dia menerima "kenyataan" bahwa para penggemar fanatiknya sudah terlanjur tak bisa memisahkan antara namanya dan nama sang detektif imajinasinya, sehingga dia kembali mulai menulis serial Sherlock Ho...

Evolusi Kesadaran dalam Terkuaknya Supernova

Photo by. Prajna Farravita Judul : Intelegensi Embun Pagi Penulis : Dee Lestari Penerbit : Bentang Pustaka Tahun Terbit : Februari 2016 (cetakan pertama) Tebal : 705 halaman  No. ISBN : 978-602-291-131-9 Harga : Rp 94.400,- “Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan Intelegensi Embun Pagi. Perjalanan melintasi dimensi menjadi langkah dalam nenemukan misi yang telah direncanakan sebelum mereka lahir”. RUPANYA evolusi kesadaran menjadi topik penting dalam mengetahui untuk apa seseorang dilahirkan. Kesadaran menjadi kunci memecahkan amnesia dan salah satu cara untuk mencapai tujuan. Mencari jawaban dalam setiap pertanyaan merupakan proses kesadaran itu terungkap. Kemampuan aneh setiap tokoh ialah jawaban dari pertanyaan mereka. Pernyataan kompleks yang dihadapi setiap tokoh dapat mempertemukan mereka. Satu gugus dengan enam peretas bersatu untuk membuka portal Asko yang akan menunjukkan rumah mereka sebenarnya. Fakta demi fakta terungka...

Berdialog dengan Tuhan

Photo: Prajna Vita MASA kecilku , aku selalu menunggu kepulanganmu. Bukan untuk menuntut sesuatu, tetapi sekadar ingin melihatmu, cukup, itu saja. Kala itu, aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, yang aku tahu, kau pulang dan tersenyum ketika sudah melihatku, terkadang menciumku dan aku hanya menggeliat geli. Momen itulah yang selalu aku rindukan, di mana otot-otot lenganmu belum terlihat dan kulit tanganmu belum mengeriput. Sekarang, kadang aku lalai menunggu kepulanganmu hanya karena perkara kesibukan dalam duniaku saja. Aku tahu apa yang kau kerjakan di luar sana. Menghadapi ribuan manusia dengan jalanan ibu kota. Bersahabat dengan gumpalan asap beracun. Aku tahu susahnya dan aku tahu lelahnya. Meskipun kesusahan itu mengikutimu, kau tetap memberi apa yang aku butuhkan, tetapi kadang aku menuntut apa yang aku inginkan. Aku mempunyai banyak cita-cita, tetapi cita-citamu jauh lebih banyak. Aku menuntut ini itu dan kau tidak menuntut satupun dariku. Aku tahu, ...

Tak Salah Masuk Labirin

LEPASKAN rasa ini dan fokus pada tujuanku. Hilangkan rasa ini dan anggap seperti kau dan aku teman. Aku berusaha sewajarnya, tetapi kau memancingku dengan semua yang aku suka. Musik, gambar, typografi, photo, dan coffee . Lebih jauh mengenalmu membuatku takut. Aku takut kehilanganmu sebagai teman diskusi, sebagai teman yang membantuku untuk melatih kemampuanku mengenal kopi. Kemampuan membuat lidah lebih peka dengan citarasa kopi dan kemampuan untuk kembali menulis. [Jkt, 25/10’15 : 21.08] Aku merasa yang aku alami selama ini ialah sebuah mimpi. Semua hal-hal menakjubkan datang begitu saja. Semua ini berpengaruh positif pada diriku. Ketika berimajinasi mengenai kisah ajaib, aku menanyakan pada diri sendiri. Apakah aku sedang koma? Lalu, hal-hal yang terjadi selama ini ialah mimpi di dalam komaku. Jika, ya, aku yakin akan menyesal ketika sadar. Namun, jika aku ditakdirkan untuk bangun lagi, aku pasti akan mengingat kisah mengesankan itu dan akan mempunyai semangat hidup yang l...

Kapan Harus Menyewa dan Membeli Ruko

Apakah Anda pernah merasa mentuhankan ijazah? Semakin banyak persaingan kerja karena perusahaan asing membuka lapangan kerja yang cukup besar. Pendidikan menjadi faktor utama mendapatkan jabatan tertinggi. Lalu, di mana peluang mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi? Padahal, kemampuan dan kecerdasan mereka mengagumkan. Meskipun tempat bagi mereka yang berpendidikan rendah sangat terbatas, tetapi mereka juga tidak menyerah begitu saja. Banyak dari mereka mampu menghasilkan usaha sendiri dan akhirnya sukses. Perlu diketahui juga, bahwa Tuhan tidak pernah melahirkan manusia dengan keadaan miskin, tetapi salah manusianya sendiri jika mati dalam keadaan miskin. Berwirausaha menjadi jalan sebagian besar dari mereka. Awalnya dengan usaha kecil, lambat laun kemampuan finansial mereka bisa melebihi seorang pegawai dengan jabatan tinggi. Hebat bukan? Tak jarang dari mereka menjalankan usahanya di rumah atau bahkan menjajakannya dari rumah ke rumah, sepe...