Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Tahu, Aku Salah Menghakimi-Mu

Terkadang aku ingin menghakimi-Mu, tetapi aku masih percaya takdir-Mu Terkadang aku mencurigai-Mu, tetapi aku sadar bahwa Kau tahu mana yang buruk dan mana yang baik Terkadang aku membenci takdirku sendiri, dan aku tahu, aku sedang menyalahkan-Mu Terkadang aku ingin lepas dari-Mu dan bertindak di luar batas, tetapi aku masih mengingat karma-Mu selalu berlaku Terkadang aku ingin marah pada-Mu, tetapi aku tahu bagaimana lebih besar murka-Mu Tuhan..., Terkadang aku ingin tetap tidur saja tenpa harus terbangun Di kegelapan itu, tak bertemu manusia baru, sepi, hening, tenang, dan kosong Namun, aku tidak mau melihat neraka tepat di depanku Tetapi jika aku terbangun aku mengumpat-Mu Rahasia-Mu bernama teka-teki takdir telah merasuk dan akan terus menjadi kemungkinan-kemungkinan lain yang selalu aku anggap salah, padahal aku tahu, Kau yang memegang kendali. Jakarta, 13 Januari 2016 09.30 *Di ruang Publishing 5A. Saat ujian masih berlangsung. Pada sela-sela wa...

Kau Mewakiliku, Hujan

Selamat datang hujan Kau hadir apakah tahu aku yang memanggilmu? Atau ada seseorang yang masih merasakan hal sama sepertiku? Aku sedang sendu dan kau datang. Apa bisa aku sebut ini seperti drama? Kau mewakiliku, hujan Aku ingin menangis tetapi aku tidak bisa. Kopiku mengingatkanku pada apa yang aku rasakan. Mengingatkanku lagi pada rasa takut itu. Aku takut kehilangan. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun mengapa aku mengenalnya. Aku merasa beruntung dipertemukan dengan seseorang yang membuatku merencanakan tujuan. Jika aku hidup hanya mengikuti arus saja untuk apa? Aku hidup untuk tujuan. Tujuan di dunia dan di akhirat. Kau tahu hujan? Bukan berarti aku harus memecahkan teka-teki takdir. Bukan berarti aku menyalahkan Tuhan. Aku berterimakasih atas semua yang sudah Ia berikan. Hanya saja aku takut kehilangan salah satu dari itu. Kau memberikanku seseorang yang bisa membuatku merencanakan impian besar. Lalu, apakah Kau juga akan menghilangkannya dariku? Bukan aku m...

Aku Yang Bermonolog

Tenggorokkanku tercekik. Jangan tanyakan mengapa, karena aku tak sanggup berbicara. Buat Seninku agar berjalan lebih cepat karena aku tak mau lagi mendengar celotehan masa lampau. Seakan aku yang salah. Aku mempunyai alasan mengapa tak bisa menghadirinya dan jangan tanyakan apa alasannya, karena aku tak bisa mengatakan secara runtut. Maaf, aku masih tidak berselera untuk menahan sakit di tenggorokkan yang akan semakin mencekik. Sangat sakit, tetapi tak bisa dikeluarkan. Tak mudah menemukan tempat untuk mengeluarkan semua ini. Membawa ke sana-ke sini. Sebuah cindera mata yang sudah dipersiapkan dari hari Senin. “Ke mana orang yang bisa mensenyumiku?” Katanya tanpa beralih. Tetap statis. Maaf, aku hanya bermonolog pada kotak yang masih bersamaku. “Mengapa kau menangis? Menangislah. Aku tak akan menahanmu. Biarkan perlahan tangisan itu melonggarkan tenggorokkanmu,” katanya. Sekali lagi, maaf, karena aku hanya bermonolog. “Kau lihat bungkusan di stoples itu? Am...

Kau Datang Bersama Malam

Aroma tanah kering yang tersiram air hujan kini memenuhi ruangan tempatku berkutik dengan kertas dan materi ujian. Meskipun tidak asing dengan itu, tetapi tetap terasa istimewa. Biasanya hangat, kali ini bersama dingin. Terima kasih malam, kau telah membawa hujan. Bersama angin malam dan sedikit dingin yang aku tahu pasti berasal dari air hujan ini. Tak apalah jika bukan senja yang membawanya. Kau sudah memberi harapan dengan memperdengarkan guntur dan malam yang membawa hujannya. Menyatukan hawa angin malam dan dinginnya embun membuat pori-pori ini melebar. Teratur. Tidak berubah semakin deras dan semakin mengecil. Membuat aroma tanah tetap ada dalam waktu yang cukup lama. Sebenarnya tak ada lagi cerita. Bukan tak ada, tetapi belum ada. Namun, tak mungkin aku mampu bercerita pada senja saja. Aku berusaha untuk bercerita pada malam yang membawa hujan. Suaranya menderu bagai mesin yang berjalan teratur Tetes-tetes itu membentuk irama penenang otak agar tetap mampu b...

Aku Rindu Hujan

Aku rindu hujan Aku rindu aroma tanah kering tersiram air hujan Aku rindu melihat titik-titik air menempel di kaca depan Aku rindu ketika hati ini bercerita penuh tekanan Aku rindu basah Aku rindu para mulut pembantah Aku rindu mulut ocehan para bedebah Aku rindu bayangan penuh kisah Aku rindu dingin Aku rindu dingin dengan hembusan angin Aku rindu dingin saat aku terjebak di sebuah tempat yang membuatku nyaman Aku rindu hujan saat menunggu deras hujan itu berhenti dan entah sampai kapan Aku rindu mengigil Aku rindu menggigil dan mulutku memanggil Aku rindu menggigil dan minuman hangat itu berusaha kuambil Aku rindu menggigil dan menikmati cairan hangat yang menyusuri tubuh dengan detail Jakarta, Oktober 2015 Prajna Vita_ Aku rindu mengingat masa lalu yang tetap selalu terasa baru

Rasa?

Aku tak bisa menulis, aku tak bisa berkata, aku tak bisa bertutur. Aku bisu namun aku berbicara. Aku buta namun aku mengamati. Aku tidak peka namun aku merasa. Aku mati rasa namun aku tahu mana manis mana pahit. Aku diam namun aku berjalan. Aku tidak mencium namun aku tahu aroma apa. Hatiku hidup. Masih hidup dan bertahan dalam diriku. Aku gila? Tapi aku masih tahu arah. Aku waras namun otakku beku berpikir. Aku munafik namun aku jujur. Aku yakin namun aku bimbang. Aku fokus namun imajinasiku terlalu melebar. Aku sibuk namun aku bingung apa yang harus aku kerjakan. Lalu aku ini apa? Mayat hidup yang masih mempunyai otak untuk berpikir? Menyalahkan diri sendiri namun aku kagum dengan diriku sendiri. Memotivasi diri sendiri namun aku selalu menemukan titik gagal dan terpuruk. Mimpi! Aku bermimpi. Aku punya mimpi. Aku gunda dengan mimpiku. Aku terlalu fokus dengan hal-hal sepele yang menghambat mimpiku. Aku tidak mau kehilangan. Tidak mau kehilangan kau yang membantuku untu...

Mutlak Keseimbangan Atau Memiliki Perbandingan

Deru kereta api melaju cepat melewati setasiun demi stasiun. Mendekati stasiun transit di Manggarai, kereta mulai melambat. Kereta mulai berhenti dengan kecepatan rendah. Potret terlihat dari jendela kereta sebelah kanan membuatku bertanya dan menjawabnya sendiri. Pekerja pemotong besi. Bukan karena pekerjaannya yang hanya bisa menghasilkan uang sedikit. Bukan karena kerasnya tanah Jakarta. Bukan hanya karena usia yang tidak layak lagi. Pekerja pemotong besi, dengan menahan bunga api yang mampu mendekati kulit dan merusak matanya merupakan salah satu risiko. Aku tak mempermasalahkannya, hanya saja, aku membalikkan pada diriku sendiri. Semua memang membutuhkan teori, memahaminya memerlukan otak kanan. Namun, tanpa disadari setiap orang menggunakan kedua otak mereka dengan dominasi yang berbeda. Kecuali untuk anak-anak yang sekarang sudah melatih otak tengahnya agar dapat bekerja. Memotong besi memerlukan ketepatan perhitungan di sini. Bukan hanya membuat potongan tampak rap...